Top Menu

membuat-batik-pekalongan

Peran Insentif Fiskal Dalam Mendorong Pertumbuhan Industri Batik Pekalongan

Read : 383 times

Batik merupakan salah satu warisan budaya yang dimiliki Indonesia. Motifnya yang beragam dan unik serta banyak mengandung filosofi nilai-nilai kehidupan menjadi daya tarik tersendiri bagi para pecinta batik. Tak heran jika United Nations Educational, Scientific and Cultural Organisation (UNESCO) menetapkan batik sebagai warisan budaya yang dimiliki Indonesia.

Salah satu sentra batik terbesar di Indonesia berada di Kota Pekalongan, Jawa Tengah. Banyaknya industri batik di Kota Pekalongan membuat Pekalongan dijuluki sebagai Kota Batik. Batik Pekalongan mempunyai motif yang khas diantaranya Motif Jlamprang Pekalongan, Motif Liong, serta Motif Semen. Industri batik di Pekalongan menjadi tumpuan utama dalam menyumbangkan pendapatan asli daerah (PAD) selain sektor perikanan. Setiap tahun rata-rata nilai ekspor Batik Pekalongan ke pasar internasional mencapai US$ 2,175 juta. Oleh karena itu, pemerintah kota pekalongan terus berupaya mendorong produktivitas batik yang mempunyai daya saing hingga ke mancanegara. Hal ini sekaligus menjadi momentum bagi pemerintah Kota Pekalongan untuk terus melestarikan dan mengenalkan warisan budaya kerajinan batik terhadap generasi muda berikutnya. Selain itu, melalui beberapa event yang diadakan setiap tahun seperti acara festival batik nasional, peringatan hari batik nasional setiap tanggal 2 oktober serta acara pekan batik internasional juga dapat menarik wisatawan baik domestik maupun mancanegara.

Menurut data Dinas Koperasi dan UKM Kota Pekalongan, ada 43.000 warga Kota Pekalongan yang bekerja disektor industri pengrajin batik dan telah banyak melakukan inovasi produk dengan total IKM batik saat ini mencapai 1081 unit. Tidak hanya itu, 51,85% dari total investasi sektor industri batik di Jawa Tengah masih berpusat di Kota Pekalongan. Hal ini menjadi peluang besar bagi pemerintah untuk memperluas pasar Batik Pekalongan. Perlu adanya terobosan dari pemerintah agar IKM batik dapat menembus pasar internasional seperti industri batik besar yang sudah ada saat ini. Selain itu, pemerintah Kota Pekalongan juga dapat mendirikan perusahaan daerah (Perusda) yang menyediakan seluruh bahan baku untuk keperluan industri batik sehingga para pengusaha tidak perlu impor bahan baku secara individu melainkan kolektif melalui perusahaan daerah tersebut.

Di tengah usaha pemerintah mendorong industri batik justru keluhan datang dari kalangan pengusaha batik yang mengklaim adanya penurunan daya beli masyarakat lokal. Hal ini terjadi berawal dari lesunya kondisi ekonomi dunia yang terjadi beberapa tahun lalu yang berakibat pada naiknya harga komoditas membuat para pengusaha batik mengurangi produksinya bahkan ada yang menutup usahanya. Pantas saja itu terjadi, karena hampir 90% bahan baku pembuatan batik berasal dari luar negeri yang harus di impor oleh pengusaha yang mengakibatkan harga batik menjadi mahal. Tidak hanya itu, tingginya pajak impor serta PPN yang dikenakan pemerintah terhadap pengusaha batik juga turut menambah biaya produksi. Untuk mengatasi hal ini pemerintah dapat memberikan fasilitas fiskal berupa insentif pajak untuk industri batik agar produksi kerajinan ini meningkat dan mencegah punahnya pengrajin Batik Pekalongan. Insentif pajak/tax haven berguna untuk mendorong lebih banyak output kerja untuk mencapai pembayaran lebih banyak terutama dipengaruhi oleh pentingnya relatif banyak uang bagi pihak yang menerimanya dan evaluasi orang yang bersangkutan, tentang adilnya rencana berdasarkan apa yang diperoleh (Winardi:2001). Oleh karena itu, diharapkan insentif fiskal tidak hanya diterapkan di sektor financial saja, tetapi juga sektor riil dan UMKM. Adanya insentif pajak PPN di sektor industri batik membuat investasi meningkat yang berakibat pada bertambahnya lapangan pekerjaan dan meningkatkan perekonomian masyarakat Kota Pekalongan. Sehingga insentif pajak di sektor industri batik dapat memberikan multiplier effect (efek beruntun) lainnya. Fungsi pajak pun dapat berperan sebagai regulerend untuk melindungi produksi dalam negeri dan menjaga kestabilan perekonomian serta meningkatkan daya beli masyarakat.

Seandainya pemerintah menerapkan kebijakan tersebut maka para pengusaha batik dan pengrajin batik tidak perlu khawatir lagi kehilangan pangsa pasar, terlebih dengan dimulainya masyarakat ekonomi ASEAN (MEA) sejak akhir tahun 2015 menjadi peluang tersendiri bagi IKM Batik Pekalongan untuk memasuki pasar global dan mempromosikan Batik Pekalongan sebagai warisan budaya asli Indonesia. Pemerintah juga dapat memberikan fasilitas berupa kemudahan administrasi ekspor Batik Pekalongan bagi IKM yang belum pernah mengekspor ke luar negeri. Sehingga mereka termotivasi untuk berinovasi lebih banyak dan meningkatkan hasil produksinya.

Hingga saat ini pemerintah Indonesia belum menerapkan aturan mengenai insentif pajak PPN untuk barang yang diperkirakan akan punah di pasaran seperti batik. Kebalikannya, di luar negeri sudah banyak negara yang menerapkan kebijakan fiskal ini karena dinilai efektif dalam meningkatkan jumlah produksi barang-barang warisan budaya negara asalnya. Sehingga dapat melestarikan serta menguasai pasar karena meningkatnya daya beli masyarakat. Insentif fiskal tersebut dapat berupa kredit pajak ekspor maupun menerapkan tingkat suku bunga yang rendah dalam rangka pembiayaan ekspor ke luar negeri. Dengan demikian adanya fasilitas insentif fiskal diharapkan mampu mendorong tingkat produksi Batik Pekalongan yang dapat memberikan kontribusi terhadap devisa negara maupun penyerapan tenaga kerja.

Referensi:

Nugrahawati, Istikomah, Suryadi Poerbo dan Khairul Saleh. 2016. Faktor-Faktor Pengaruh Kinerja Ekspor Batik Pekalongan. Journal of Bussiness Studies. ISSN 2401-0704. hlm 31-32.

Mankiw, N Gregory. 2000. Teori Ekonomi Makro. Edisi Keempat. Erlangga. Jakarta

Dominick, Salvatore. 1997. Ekonomi Internasional. Edisi Kelima. Erlangga. Jakarta.

http://www.kemenperin.go.id/artikel/16828/Kemenperin-Berikan-Perhatian-IKM-Kapal-dan-Batik-di-Pekalongan diakses pada 20 Mei 2017.

https://pekalongankota.go.id/berita/nilai-ekspor-batik-pekalongan-naik diakses pada diakses pada 20 Mei 2017.

http://jateng.tribunnews.com/2016/02/04/ekspor-batik-pekalongan-sulit-terdeteksi diakses pada 20 Mei 2017.

, , , , , , ,

No comments yet.

Leave a Reply

 

Discuss Tax While Drinking Coffee. kopi simbol