Top Menu

Norma Penghitungan Penghasilan Neto

Norma Penghitungan Penghasilan Neto merupakan suatu cara yang dibuat Direktorat Jenderal Pajak untuk menentukan penghasilan neto wajib pajak yang tidak menyelenggarakan pembukuan. Siapa saja yang bisa menggunakan Norma Penghitungan Penghasilan Neto ini?

Yang dapat menggunakan Norma Penghitungan Penghasilan Neto adalah Wajib Pajak yang:

  • hanya melakukan pencatatan (tidak membuat pembukuan)
  • peredaran usaha bruto setahun kurang dari Rp 4,8 milyar

Pada peraturan Norma Penghitungan Penghasilan Bruto disebutkan batasan peredaran bruto kurang dari Rp 4,8 milyar. Sedangkan batasan Peredaran Bruto pada PP-46 tahun 2013 berbunyi tidak melebihi Rp 4,8 milyar. Pengusaha yang menggunakan norma penghitungan dikenakan pajak menggunakan tarif Pasal 17 UU PPh, sedangkan Pengusaha yang menggunakan PP 46 dikenakan pajak Final 1%.

Tata Cara Menggunakan

Wajib Pajak orang pribadi yang menggunakan Norma Penghitungan Penghasilan wajib memberitahukan kepada Direktur Jenderal Pajak paling lama 3 (tiga) bulan sejak awal Tahun Pajak yang bersangkutan. Pemberitahuan yang disampaikan dalam jangka waktu 3 (tiga) bulan dianggap disetujui kecuali berdasarkan hasil pemeriksaan ternyata Wajib Pajak tidak memenuhi persyaratan untuk menggunakan Norma Penghitungan Penghasilan Neto. Wajib Pajak orang pribadi yang tidak memberitahukan kepada Direktur Jenderal Pajak dianggap memilih menyelenggarakan pembukuan.

CONTOH PEMAKAIAN NORMA

Wajib Pajak A kawin dan mempunyai 3 (tiga) orang anak. Ia seorang dokter bertempat tinggal di Jakarta yang juga memiliki industry pemasaran rotan di Cirebon.

–         Peredaran Usaha dari Industri

Rotan (setahun) di Cirebon                           Rp. 120.000.000,00

–         Penerimaan bruto sebagai dokter (setahun) Rp. 204.000.000,00

di Jakarta

Penghasilan neto dihitung sebagai berikut :

–         Dari pemasaran rotan :

16% X Rp. 120.000.000,00                           Rp.   19.200.000,00

–         Sebagai dokter :

50% X Rp. 204.000.000,00                           Rp. 102.000.000,00

jumlah penghasilan Neto  Rp. 121.200.000,00

Penghasilan Kena Pajak = Penghasilan Neto dikurangi Penghasilan Tidak Kena Pajak

Rp. 121.200.000,00 – Rp. 72.000.000,00 = Rp. 49.200.000,00

Pajak penghasilan yang terutang :

–         5% X Rp. 49.200.000,00            Rp. 2.460.000,00

Catatan :

  1. Angka 16% untuk industri pemasaran rotan, lihat tabel persentase kode 106 – 02302
  2. Angka 50% sebagai dokter, lihat tabel persentase kode 1322 – 86201
  3. Istri tidak punya penghasilan.

Sumber: PER-17/PJ/2015 Tentang Norma Penghitungan Penghasilan Neto

Tabel Persentase Norma Penghitungan Penghasilan Neto dapat diunduh jika Anda Login ke Situs

Please log in to rate this.
0 people found this helpful.


Category: KUP
Tags: , , ,

← FAQs

Discuss Tax While Drinking Coffee. kopi simbol